Headlines News :

Mata Uang Dinar's Fan Box

Mata Uang Dinar on Facebook

Solusi Kuras WC Dengan Degra Simba

Sarung Kependekan

Dahulu desa-desa di Jawa bisa sangat dingin di pagi hari, maka sarung adalah pakaian multi purpose. Dipakai sebagai pakaian laki-laki umumnya di siang sampai sore hari, dan digunakan untuk selimut di malam sampai pagi hari. Tetapi ketika kain sarung masih menjadi barang mewah, tidak semua orang bisa membeli sarung dengan ukuran yang cukup. Maka dari sinilah muncul istilah kemulan sarung, kita harus melipat tubuh kita agar sarung yang kependekan tadi cukup untuk menutupi seluruh tubuh kita.

 

Bila badan kita lurus, sarung kependekan tidak akan cukup menutup seluruh tubuh kita. Kita tarik ke atas menutupi badan bagian atas kaki menjadi kedinginan, sebaliknya kita tarik kebawah untuk menutupi kaki badan bagian atas yang kedinginan.

 

Sarung yang kependekan inilah prinsip ekonomi kapitalis yang mendasarkan benda-benda ekonomi sebagai benda-benda yang mengalami kelangkaan atau scarcity. Ketika benda-benda yang langka atau terbatas digunakan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan manusia yang relative tidak terbatas maka benda apapun bisa menjadi barang mahal karena kelangkaannya.

 

Akibatnya akan selalu ada kebutuhan yang dikorbankan, setiap satu masalah diatasi ada masalah lain yang tidak diatasi atau malah timbul masalah-masalah baru. Solusi satu sisi (side) menimbulkan masalah-masalah baru di sisi lain (side effects atau efek samping).

 

Hal ini bisa dilihat dari hampir semua obat-obat yang dibuat pabrik farmasi untuk mengatasi penyakit, rata-rata memiliki efek samping yang kadang malah lebih besar dari penyakit yang coba diobati.

 

Hal yang sama juga terjadi di bidang lain, pertumbuhan ekonomi dunia selama ini hampir selalu berdampak pada penurunan kwalitas lingkungan dan daya dukung kehidupan di bumi ini sendiri. Dari sinilah kemudian di tahun 1992 di Rio de Janeiro para  pemimpin-pemimpin dunia menyepakati perlunya mengawal pertumbuhan ekonomi dengan apa yang mereka sebut sustainable development. 

 

Kini meskipun sudah 22 tahun sejak deklarasi tersebut disepakati, pertumbuhan ekonomi dunia masih belum berubah arah. Efek samping dari pertumbuhan berupa kerusakan lingkungan makin menjadi-jadi. Banjir di Jakarta yang dahulunya lima tahunan kini menjadi setiap ada hujan ya banjir, di Riau dan sekitarnya setiap musim kering ya ada musibah asap inilah sebagian dari efek samping pertumbuhan yang kini kita rasakan langsung.

 

Contoh lain adalah masalah energi, ketika dunia berusaha melepas ketergantungan pada  non renewable energy ke renewable energy seperti bioethanol dari Jagung yang ditempuh Amerika misalnya, maka efek samping yang luar bisa terjadi pada krisis pangan. Ketika jagung yang seharusnya untuk makanan manusia dan ternak dijadikan bioethanol, di Meksiko sampai terjadi huru hara tortilla.

 

Lantas bagaimana kita bisa mencari solusi dari masalah-masalah kita agar solusi tersebut tidak malah menimbulkan efek samping yang lebih besar ? Agar solusi kita tidak seperti sarung kependekan tersebut di atas ?

 

Disinilah perlunya petunjukNya itu ! Ilmu manusia terlalu sedikit dan pengalamannya terlalu pendek untuk bisa menyombongkan diri bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapinya. Bahkan teman saya yang professor science-pun mengakui bahwa ilmu manusia saja tidak menyelamatkan.

 

Petunjuk tersebut datang dari Yang Maha Tahu, kebenarannyapun abadi hingga akhir jaman maka bila solusi-solusi itu mengikuti petunjukNya, insyaAllah dia akan mengandung kebaikan yang banyak dan tanpa efek samping yang merugikan.

 

Ambil contoh kasus solusi energi tersebut di atas. Setinggi apapun ilmunya orang barat membuat energi bioethanol dari jagung dan sejenisnya penolakannya akan sangat besar, ya karena efek sampingnya pada kelangkaan pangan manusia dan pakan ternak.

 

Seandainya ilmu ini di-guided dengan petunjukNya, maka insyaAllah hasilnya akan lain. Allah memberi petunjukNya bahwa energi (api) itu datang dari pohon (syajara) yang hijau (QS 56:72 dan QS 36 : 80) bukan dari tanaman-tanaman (zara).

 

Pencarian energy hijau seharusnya fokus dari yang dihasilkan oleh pepohonan dan bukan dari tanaman-tanaman seperti jagung, gandum, padi dan sejenisnya. Kelompok yang terakhir ini lebih diarahkan untuk keperluan pangan.

 

Pepohonan yang mengandung serat, atau buah yang mengandung gula dapat diarahkan kemudian untuk membuat (sebagiannya) bioethanol misalnya. Sedangkan pepohonan yang menghasilkan buah yang mengandung minyak, sebagiannya bisa untuk menghasilkan biodiesel.

 

Pendekatan pohon untuk energy ini kemudian akan menghadirkan berbagai kebaikan yang lain, akan semakin banyak pohon-pohon yang ditanam oleh manusia untuk diambil buahnya sebagai bahan bioethanol ataupun biodiesel.

 

Pohon-pohon yang semakin banyak ditanam akan membersihkan udara dari pencemaran CO2, mengamankan supply air di tanah, menurunkan suhu permukaan bumi, membangun kembali ecosystem dan mengembalikan kekayaan hayati.

 

Maka agar solusi atas masalah-masalah kita tidak seperti sarung kependekan tersebut di atas, awalilah dengan memohon petunjukNya. Setiap solusi yang datang dari petunjukNya, dia bukan hanya mengatasi masalah yang  ada tetapi juga mengandung kebaikan-kebaikan lain yang sangat banyak. Insyaallah.

 

Pak Kyai Di Sidang Kabinet Baru

Di setiap krisis yang dihadapi bangsa ini, saya selalu bermimpi guru imaginer saya Pak Kyai turut hadir menyelesaikannya. Maka seperti mimpi-mimpi sebelumnya ketika negeri ini menghadapi krisis inflasi  meningkatnya jurang antara si kaya dengan si miskin dan krisis bahan pangan, untuk kesekian kalinya saya bermimpi Pak Kyai hadir kembali di sidang kabinet. Kali ini kejadian dalam mimpi tersebut adalah ketika rangkaian PEMILU eksekutif 2014 telah berakhir, Presiden baru lengkap dengan seluruh jajaran menterinya baru dilantik.

 

Dalam sidang kabinet pertama, Presiden baru kita ingat dengan janji-janjinya selama masa kampanye. Bahwa dia antara lain menjajikan swasembada pangan bagi negeri ini, bahwa dia menjanjikan negeri yang kuat dalam bidang ekonomi sehingga tidak ditekan-tekan dan didekte oleh negeri-negeri asing.

 

Kabinet kali ini diisi oleh para pakar dan professional di bidangnya masing-masing, namun demikian Pak Presiden belum sepenuhnya puas dengan pemikiran para menteri untuk menghadapi krisis multi dimensi yang dihadapi saat itu.

 

Di bidang ekonomi krisis itu terindikasi dari rendahnya daya beli masyarakat, rendahnya kwalitas dan kwantitas pangan mereka, terus menurunnya nilai tukar Rupiah, terus merosotnya cadangan devisa, ekonomi biaya tinggi di hampir seluruh sektor dlsb. dlsb.

 

Maka setelah seluruh menteri menyampaikan garis besar pemikiran mereka masing-masing, Pak Presiden berbicara dengan Pak Kyai.

 

Begini Pak Kyai, saya mendengar sudah beberapa kali dalam pemerintahan sebelumnya Pak Kyai diundang untuk hadir dalam sidang kabinet semacam ini. Maka tradisi baik dari pendahulu saya tersebut ingin saya teruskan dan bahkan tingkatkan, saya ingin ada wawasan lain diluar yang sudah biasa saya dengar dari para menteri dan pembantu saya lainnya. Monggo Pak Kyai, kami semua ingin menyimak

 

Dengan penampilan yang santai, memakai sarung dan kopyah hitam miring Pak Kyai seolah memecah kekakuan suasana sidang kabinet. Setelah mengucapkan syukur kepada Allah dan menyampaikan shalawat dan salam kepada Junjungan kita Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam Pak Kyai-pun mulai bicara :

 

Mohon maaf bapak Presiden, sebelum saya menyampaikan uneg-uneg saya, saya ingin memberi hadiah kepada Pak Presiden. Kemudian Pak Kyai menyampaikan hadiahnya berupa koin emas seperti dalam gambar disamping. Ditengah keheranan pak Presiden dan para menteri yang hadir, Pak Kyai kemudian menjelaskannya.

 

Koin emas tersebut adalah perlambang amanah kepada bapak Presiden dan para menteri. Koin itu di bahasa bapak-bapak sekalian adalah yang disebut unit of account, dalam bahasa pesantren saya adalah timbangan yang adil. Dalam bahasa bapak-bapak dia adalah perlambang store of value, dalam bahasa kami dia adalah alat untuk mempertahankan nilai atau bagian dari ketahanan ekonomi (yukhsinun).

 

Maksudnya adalah, agar dalam lima tahun jabatan bapak-bapak sekalian kedepan, bapak-bapak bisa berperilaku adil terhadap rakyat. Dan Bapak-bapak juga harus bisa membangun ketahanan ekonomi negeri ini, mampu meningkatkan dan kemudian juga mempertahankan daya beli masyarakatnya.

 

Pak Presiden kemudian menyela : Menarik sekali Pak Kyai, tapi apa hubungannya koin ini dengan masalah yang kini kita hadapi ? apa solusi  kongkritnya menurut pak Kyai ?. pak Kyai-pun tidak sabar untuk segera menjelaskannya :

 

Begini bapak  Presiden dan bapak-Ibu menteri sekalian. Ekonomi kita lemah, cadangan devisa terkuras dan nilai tukar uang kita terpuruk karena kita belum berhasil membangun keunggulan-keunggulan berdasarkan resources yang kita miliki.

 

Selain bahan bakar, kita harus mengimpor bahan-bahan pangan dari tepung sampai daging dan susu padahal kita hidup di bumi Allah yang paling kaya keaneka ragaman hayati kita dan mendapatkn hujan sangat cukup disamping sinar matahari sepanjang tahun. Hanya beberapa negeri katulistiwa saja yang memiliki keunggulan semacam ini di dunia.

 

Adapun koin yang saya berikan ke bapak Presiden tadi, itu hanyalah simbul bahwa hanya dengan domba atau kambing-pun negeri ini bisa bangkit, membangun cadangan devisa, mencukupi kebutuhan pangan sekligus menyuburkan kembali lahan-lahan kita yang mulai gersang.

 

Bapak menteri pertanian bisa cek, bahwa tahun lalu produksi daging sapi  kita hanya 430,000 ton atau kalau dibagi rata-rata penduduk hanya kebagian 1.8 kg per tahun per kapita. Setelah ditambah impor, daging domba, kambing, ayam dlsb, konon menurut datanya FAO kita bisa makan daging sampai 10 kg per tahun per kapita. Inipun kurang dari ¼ konsumsi rata-rata penduduk dunia yang berada di kisaran 41 kg per tahun per kapita.

 

Sekarang saya akan tunjukkan bahwa kita bisa meningkatkan konsumsi daging kita untuk mencapai rata-rata penduduk dunia atau empat kali dari sekarang, pada saat yang bersamaan kita meningkatkan devisa dari berbagai sektor !.

 

Karena melihat wajah-wajah para menteri yang mengekspresikan kekurang percayaannya. Pak Kyai-pun melanjutkan :

 

Selama ini kita perfikir sektoral. Menteri kehutanan fokus ngurusi hutan dan tentu saja harus berusaha mempertahankan kekayaan yang satdan melimpah, bertani kita menjadi variatif karena tidak hanya menanam tanaman semusim tetapi juga tanaman-tanaman jangka panjang yang bisa dipetik hasilnya secara terus menerus tanpa perlu menanam ulang setiap saat. Ternak kita memperoleh pakan yang melimpah tidak perlu membeli.

 

Merasa bidangnya disinggung Pak Kyai, menteri pertanian-pun menyela : Mohon maaf Pak Presiden, boleh kami menyela ? Setelah diijinkan oleh pak Presiden menteri pertanian-pun menyela penjelasan Pak Kyai : Begini Pak Kyai, apa yang Pak Kyai sampaikan tersebut seolah ideal padahal belum ada bukti keberhasilannya di lapangan. Sedangkan kita butuh solusi-solusi yang konkrit yang sudah ada bukti keberhasilannya.

 

Merasa tertantang, pak Kyai-pun menjelaskan ; Justru inilah buktinya bapak Presiden dan para menteri, kita sudah 69 tahun merdeka tetapi kita tidak mandiri pangan. Bukankah ini bukti bahwa pendekatan yang ditempuh selama ini gagal ? bukankah kita perlu menempuh jalan lain agar kita tidak gagal lagi dan gagal lagi ?, bukankah bapak-bapak sekalian juga tidak ingin me jadi pemerintahan yang gagal dalam lima tahun kedepan ?.

 

Tetapi apa jalan lain itu ?, rakyat telah lelah menjadi ajang percobaan system ekonomi demi system ekonomi. Ekonomi Orde Lama berujung hiper inflasi dan sanering, ekonomi Orde Baru berujung pada ekononomi kroniisme yang hanya menguntungkan segelintir orang. Ekonomi era reformasi hanya berujung negeri ini jadi bancakan raja-raja kecil dari daerah sampai pusat !

 

Tidak ada jalan lain, kita harus kembali ke system ekonomi yang benar. Ekonomi yang berbasis petunjukNya. Mendengar ini, menteri ekonomi yang Doctor lulusan barat memotong : Tetapi apa ada pak Kyai konsep ekonomi yang berbasis petunjuk itu ? seperti apa konkritnya, dan dimana diterapkan secara berhasil ?

 

Merasa seperti dikeroyok para menteri, Pak Kyai-pun tidak kalah sigap : Allah berjanji bahwa kitabNya adalah petunjuk, penjelasan dan jawaban untuk segala bidang. Maka pasti urusan ekonomi yang begitu besar mengurusi hajat hidup orang banyak-pun ada tuntunan detilNya.

 

Seperti kombinasi antara hutan/kebun dengan pertanian dan penggembalaan ternak tersebut, petunjuknya bergitu jelas dan lengkap. Lalu pak Kyai membacakan dan menjelaskan tafsir Surat An-Nahl 10-11 dan Abasa 24-32.

 

Pak Presiden yang manggut-manggut akhirnya menengahi : Saya paham, perdebatan ini hanya masalah pendekatan yang berbeda. Para menteri mendekati masalah dengan keahliannya, Pak Kyai mendekati masalah dengan petunjukNya. Justru inilah yang saya kehendaki, setiap masalah didekati dengan petunjukNya, kemudian ditindak lanjuti di lapangan dengan profesionalisme dan keahlian di masing-masing bidang.

 

Ganti Pak Kyai yang manggut-manggut: betul Pak Presiden, PetunjukNya harus menjadi panglima dalam setiap masalah yang kita hadapi dan akan selesaikan, kemudian seluruh jaringan keahlian dan profesionalisme di masing-masing bidang akan menjadi para prajuritnya di bidang masing-masing.

 

Pak Presiden kemudian mengarahkan : Kongkritnya seperti apa Pak Kyai, bagimana dengan WATANA tadi kita akan bisa membangun kekuatan ekonomi, bisa meningkatkan cadangan devisa dan bisa swasembada pangan ?

 

Begini pak Presiden dan bapak-ibu menteri, bila kita menjadikan hutan, kebun dan lahan kita sekligus menjadi lahan gembalaan maka kita akan bisa memproduksi daging yang murah. Bersamaan dengan itu lahan-lahan akan subur dengan sendirinya, otomatis hasil berupa bahan makanan lain akan juga menjadi murah dan melimpah. Dari sini saja kita sudah tidak akan mengimpor bahan-bahan makanan termasuk daging dan susu.

 

Pak Presiden masih menyampaikan pertanyaan lanjutan : Apakah bisa pak Kyai ini dilakukan ?, apakah te

Digaji Dengan Kambing Mau

Salah satu bukti kebenaran Islam itu terletak pada keadilan hukum-hukumnya sepanjang jaman. Sejak jaman Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam sampai sekarang, orang yang melanggar larangan haji dendanya (dam) tetap menggunakan standar kambing. Demikian pula untuk aqiqah ketika anak kita lahir, tetap menggunakan kambing.  Bayangkan kalau denda  itu berupa uang kertas, harus terus menerus direvisi karena nilainya yang terus menyusut.

 

Standar denda atau kewajiban berupa benda riil ini menjadikan manfaat denda atau kewajiban tersebut tetap dapat dirasakan - atau dengan kata lain tetap bernilai sepanjang jaman. Standar nilai terbaik berupa kambing atau domba ini juga dikuatkan dalam dua hadis berikut :

 

Dari Abu Said berkata : Rasulullah SAW bersabda : Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim). (H.R. Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang diatasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang diatasnya dengan bersemangat untuk mencari kematan dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa.  Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan sholat, memberikan zakat dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka. (H.R. Muslim).

 

Berdasarkan dua hadits sahih tersebut kita menjadi paham kini  bahwa kambing adalah harta muslim terbaik dan menggembalakannya adalah penghidupan terbaik setelah berjihad. Hal ini antara lain juga bisa difahami dari manfaat atau kegunaan kambing-kambing atau domba tersebut. Bila kambing atau domba tidak ada, dengan apa muslim mebayar dam-nya ?, dengan apa dia ber-aqiqah ? dengan apa dia ber-qurban ?

 

Syariat Islam akan terus tegak di muka bumi sampai akhir jaman, maka memelihara sarana untuk penegakannya antara lain seperti memelihara ketersediaan kambing/domba tersebut menjadi salah satu pekerjaan terbaik di muka bumi sampai akhir jaman.

 

Di jaman modern ketika uang dibuat dari awang-awang berupa uang kertas yang nilainya terus menyusut, atau uang dibuat dari bit-bit digital seperti bitcoin dan sejenisnya yang semuanya tidak memiliki acuan nilai baku, maka menjadi semakin penting bagi umat ini untuk memiliki standar nilainya sendiri. Standar nilai itu bisa berupa Dinar dan Dirham seperti yang sudah diperkenalkan situs ini selama enam tahun terakhir, atau dengan standar kambing yang sedang kami persiapkan segala systemnya.

 

Keduanya memiliki kesamaan, Dinar dan Dirham mengacu pada nilai fisik emas dan perak. Sedangkan kambing mengacu pada nilai fisik kambing atau domba. Dinar dan Dirham bagi komunitas pembaca situs ini tentu sudah sangat familiar seluk beluknya, tetapi bagaimana dengan satuan kambing ?

 

Dalam sejarah Islam, kambing atau domba ternyata juga bukan hanya untuk qurban, aqiqah, membayar dam, dan memenuhi kebutuhan daging sehari-hari.  Tetapi juga dipakai untuk standar gaji bagi para ulama, guru dan profesi-profesi lain, ini sangat bisa dipahami karena kambing atau domba dapat secara akurat merepresentasikan kebutuhan dan nilai yang berlaku di masyarakat pada masing-masing jamannya.

 

Lantas kalau sekarang kita sudah familiar memiliki tabungan dalam uang kertas yang sebenarnya kita sadari nilainya terus berkurang, sebagian kita juga mulai mengenal uang digital yang tidak memiliki nilai intrinsik mengapa tidak kita juga mengenal simpanan berupa harta terbaik (berdasarkan hadis tersebut di atas) berupa kambing atau domba ?

 

Bayangkan kalau tabungan Anda berp class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; line-height: 150%;"> 

Kebun-kebun yang kami kelola misalnya, bisa menjadi lahan gembalaan yang kami syirkah-kan dengan Anda semua. Kami memiliki lahan gembalaan , lengkap dengan sarana dan prasarananya Anda yang memiliki kambing lengkap dengan biaya pemeliharaannya. Hasil dari penggembalaan tersebut berupa pertumbuhan berat dan anak-anaknya dapat kita bagi dua, demikian pula dengan resiko-resikonya.

 

Dalam skala terbatas, program ini telah berjalan antara kami dengan beberapa orang. Bila eksperimen awal ini berjalan mulus, maka konsep ini insyaAllah bisa di scale-up sampai tingkat berikutnya.

 

Konsepnya mirip dengan pengenalan Dinar dahulu, kami mulai dengan bersyirkah dalam bentuk Qirad dengan beberapa orang, kemudian kami perkenalkan versi scale-up-nya dengan M-Dinar.

 

Scale-up syirkah penggembalaan kambing di lahan-lahan perkebunan, kehutanan dan lahan-lahan yang khusus disiapkan untuk penggembalaan ini nantinya insyaAllah akan kita rupakan dalam bentuk bank kambing atau domba dalam bahasa inggris kita sebut LambBank.

 

Namanya bank tetapi bukan seperti bank finansial, dia lebih menyerupai bank fisik yang digunakan oleh misalnya teman-teman aktivis lingkungan dengan bank sampah-nya. Atau teman-teman aktivis kemanusiaan dengan bank darah-nya. Kita-kita para aktivis sosial ekonomi muslim secara global insyaAllah akan memiliki LambBank tersebut.

 

Persamaan dengan bank finansial hanyalah pada cara cara kerjanya. Di bank sampah  Anda menyetor sampah, di bank darah Anda menyetor maupun mengambil darah, maka di LambBank Anda menyotor kambing/domba atau menarik kambing/domba. Bila di bank finansial dikenal nilai tukar, di LambBank dikenal harga jual-beli.

 

Menyetor kambing tidak berarti Anda harus menuntun kambingnya ke cabang LambBank terdekat meskipun hal inipun dapat Anda lakukan Anda dapat lakukan dengan menyotorkan uang Anda kemudian dikonversikan ke setara kambing pada harga jual saat itu.

 

Demikian pula ketika Anda akan mengambil kambing Anda, bisa Anda ambil dalam bentuk kambing fisik dan Anda tuntun ke rumah   atau kalau tidak mau repot ya bisa dicairkan dalam nilai rupiah dengan menjualnya ke pihak pengelola yang kemudian dibeli pengelola dengan harga beli.

 

Bila di bank finansial asset itu berupa tumpukan uang kertas di brankas , deposit mereka di bank sentral dan bank-bank lain, Asset LambBank adalah kambing dan domba di lahan-lahan gembalaan yang dikelolanya dan juga kambing/domba yang dikelola oleh mitra-mitranya.

 

Kehadiran LambBank ini akan

Watana Solusi Pangan Air Dan Energi

Dalam hal  kebutuhan pokok berupa pangan, air dan energi, sesungguhnya kita memiliki kombinasi sumber-sumber terbaiknya di dunia. Tetapi ironinya justru kita terbelakang dalam hal pemenuhan kebutuhannya.  Untuk pangan,  food security kita terendah di ASEAN. Dalam hal kebutuhan air, seperti laporan  McKinsey yang pernah saya kutip sebelumnya pada tahun 2030 akan ada 25 juta orang Indonesia yang tidak mendapatkan akses air bersih dan bahkan 55 juta orang tidak mendapatkan sanitasi yang layak. Untuk energi,  ranking kita hanya berada pada urutan 63 dari 124 negara menurut World Economic Forum.

 

 

Ketika masalah-masalah diselesaikan secara sektoral dan lebih pada mengatasi gejala ketimbang akar masalahnya, maka yang kita lihat adalah sekumpulan masalah multi dimensi yang semakin ruwet tersebut di atas.

 

Ketika masalah kekurangan produksi pangan berupa tepung, daging, susu dlsb. diatasi dengan impor, tidak terbangun kemampuan daya tahan jangka panjang dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan ini. Bahkan ketika negeri ini akan menambah jutaan hektar lahan persawahan untuk mengejar kebutuhan pangan, inipun bukan solusi karena  bisa diduga dari mana jutaan  hektar lahan ini diperoleh ? membabat hutan ? menebang pohon-pohon ? musibah lingkungan yang malah akan terjadi.

 

Air yang turun lebih dari  cukup di musim hujan, sering dilihat sebagai musibah dan bukannya berkah. Challenge untuk mengelola air sebagai berkah ini belum nampak dilakukan secara memadai oleh pihak-pihak yang terkait sehingga musibah banjir terjadi setiap tahun dan kemudian musibah kekeringan terjadi hanya beberapa bulan sesudahnya.

 

Kebutuhan energi hanya menjadi isu sesaat ketika partai-partai politik berebut pencitraan dan popularitas dengan menolak kenaikan harga BBM. Sementara itu belum nampak adanya perjuangan mereka untuk ketersediaan energi satu dua dekade kedepan ketersediaan (availability) dan keterjangkauan (affordability) energi pada era anak atau cucu kita.

 

Lantas solusi apa yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita ini agar bisa berbuat untuk kita sendiri,  dan bahkan juga untuk  anak cucu  kita nanti ? Solusi dari masalah multi dimensi itu  antara lain adanya di dua kata yang sudah sangat sering kita dengar yaitu Iman dan Amal Shaleh.

 

Dengan iman kita akan mau berbuat untuk tujuan yang sangat panjang dan bahkan untuk bekal ketika kita sudah tidak ada di bumi ini, bukan tujuan sesaat seperti mencari bekal untuk kita sendiri saat ini. Dengan iman  pula kita bisa meyakini bahwa petunjukNya untuk mengatasi segala kebutuhan manusia itu telah tersedia, kita tinggal mengikutinya tanpa ragu.

 

Dengan iman yang tidak berhenti pada tataran keyakinan dalam hati, maka iman itu akan termanifestasi dalam ucapan dan perbuatan-perbuatan kita berupa rangkaian amal shaleh yang bisa menjawab tantangan jaman seperti dalam hal pangan,  air dan energi tersebut di atas.

 

Iman itu adalah cahaya, membuat yang semula tidak terlihat menjadi terang benderang. Solusi atas kebuntuan masalah pangan, air dan energi yang semula serba ruwet misalnya, kini bisa dilihat solusinya yang terang benderang. Begitu terangnya sampai kita semua juga bisa mulai melakukannya, sehingga setiap diri kita adalah bagian dari solusi itu dan bukan sebaliknya malah bagian dari permasalahannya.

 

 

Saya coba visualisasikan rangkaian petunjukNya untuk masalah pemenuhan kebutuhan pangan, air dan energi tersebut seperti pada ilustrasi di atas. Pertama adalah dalam kondisi ekstremnya kondisi bumi yang matipun- Allah tetap bisa hidupkan dengan hujan. Maka betapa pentingnya hujan ini, jangan sia-siakan dia dan setiap kita bisa berusaha untuk menjadi faktor pengelola air hujan, bukan sebaliknya menjadi faktor musibah dari air hujan.

 

Dengan peran ini kita tidak akan membuang sampah sembarangan, tidak akan membangun di tempat-tempat yang seharusnya menjadi penampungan air, tidak menggunduli hutan dlsb. Sebaliknya kita akan terdorong untuk sadar lingkungan, sebanyak mungkin menanam pohon (pekerjaan yang diperintahkan sampai kiamat terjadi !), membuat resapan-resapan air dlsb.

 

Kemudian fungsi-fungsi air hujan itupun dijelaskanNya dengan sangat detil antara lain melalui dua ayat berikut :

 

Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menghidupkan) pepohonan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS 16:10-11).

 

Bila diringkaskan fungsi air hujan dalam dua ayat tersebut adalah selain untuk minum kita, dia adalah untuk menghidupkan dan menumbuhkan segala jenis tanaman keras (syajara) yang hidup jangka panjang seperti zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan pada umumnya. Maupun tanaman-tanaman semusim (zaraa) seperti padi, gandum, jagung dlsb. Fungsi berikutnya adalah untuk menggembalakan ternak di tempat turunnya hujan dan tumbuhnya tanamana-tanaman tadi.

 

Kombinasi antara tanaman keras (syajara) dan tanaman semusim (zaraa) inilah yang oleh ilmu pertanian modern kemudian disebut dengan agroforestry yang sudah saya jelaskan dalam berbagai tulisan sebelumnya  menyebarkannya ataupun melakukan pemupukannya.

 

Maka solusi agroforestry plus grazing atau wana tani plus gembala ternak inilah yang untuk alasan kemudahan  saya singkat menjadi solusi WATANA singkatan dari WAna TAni terNAk !

 

Dengan solusi WATANA yang dikembangkan berdasarkan petunjuk-petunjukNya tersebut di ataslah urusan segala macam kebutuhan pangan kita insyaAllah teratasi dengan sumber-sumber yang ada di sekitar kita, yang dimulai dari turunnya air hujan.

 

Lantas bagaimana dengan kebutuhan air ?, Pengelolaan air hujan menjadi mata air-mata air dan anak-anak sungai yang mengalir sepanjang tahun ini dijawab dengan ayat-ayat yang lain yaitu di Surat Yasin ayat 34 dan Surat Maryam ayat 23-24. Keduanya merupakan petunjuk akan adanya mata air dan anak sungai yang terkait dengan tanaman pohon kurma.

 

Bagaimana dengan kebutuhan energi ? PetunjukNya ada di surat Yasin ayat 80 dan surat Al-Waqiah ayat 71-72. Keduanya adalah petunjuk bahwa sumber energi-pun berasal dari pohon-pohon yang hijau.

 

Dari sini kita sekarang bisa melihat bahwa WATANA bukan hanya untuk solusi pangan tetapi juga solusi atas kebutuhan air dan energi yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Dan untuk ini kita semua bisa mulai berperan  sesuai kemampuan serta bidang kita masing-masing. InsyaAllah.

 

Mantan Negeri Agraris

Dahulu kita belajar bahwa negeri kita ini adalah negeri agraris, negeri yang mayoritas penduduknya hidup dari bertani. Sebutan itu mungkin sudah tidak terlalu pas untuk kita sandang kini, bila tidak kita berusaha meraihnya kembali. Pasalnya adalah meskipun diantara negeri-negeri di ASEAN kita masih memiliki lahan pertanian subur per capita nomor dua terbesar setelah Thailand, tetapi dalam tingkat keamanan pangan kita yang terendah.

 

Data berikut saya padukan dari dua sumber. Data pertama adalah luasan lahan yang bisa ditanami per penduduk yang saya ambilkan dari data Bank Dunia terakhir. Indonesia berada pada angka 0.10 ha per penduduk, sementara Malaysia 0.06, Philippine 0.06, Singapore < 0.01, Vietnam 0.07 dan Tahiland 0.24.

 

Data kedua saya ambilkan dari Global Food Security Index yang menganalisa keamanan pangan berdasarkan tiga hal yaitu keterjangkauan (affordability), ketersediaan (availability) serta kwalitas dan keamanannya. Index ini berupa score dari angka nol terendah sampai angka 100 maksimal. Indonesia berada pada angka 46.2 sementara Malaysia 64.3, Singapura 80.3, Thailand 59.6, Philippine 47.2 dan Vietnam 49.2.

 

 

Artinya apa angka-angka ini ? semua negeri tetangga kita memiliki keamanan pangan yang lebih baik dari kita, meskipun hampir semuanya memiliki luasan lahan per penduduk yang bisa ditanami lebih rendah dari kita kecuali Thailand.

 

Apakah artinya mereka rata-rata lebih pandai bertani dari kita ? bisa ya dan bisa tidak. Untuk Thailand bisa jadi mereka bertani lebih efektif dari kita disamping lahannya yang lebih luas. Tapi apa iya kita kalah bisa bertani dibandingkan Singapore yang nyaris tanpa memiliki lahan ? tentu tidak !

 

Kok Singapore memiliki index keamanan pangan tertinggi di wilayah ini ?, mereka tidak pandai dan tidak bisa bertani tetapi mereka mampu membelinya karena tingkat penghasilan mereka yang memang rata-rata tinggi.

 

Maka disinilah tantangan sesungguhnya. Tidak masalah kita tidak pandai bertani bila kita unggul di bidang lain apakah perdagangan, jasa, industry kreatif dlsb. sehingga kita mampu membeli atau mengamankan kebutuhan pangan kita.

 

Menjadi masalah bila di bidang-bidang yang lain kita tidak unggul sementara keunggulan satu-satunya yaitu berupa lahan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan ang lain tetapi tidak bisa kita garap secara optimal.

 

Keunggulan berupa sumber daya alam khususnya lahan-lahan yang Alhamdulillah masih subur ini seharusnya menjadi fokus peningkatan daya saing kita di era perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN  yang akan mulai berlaku tahun depan.

 

Tantangan besar untuk mengamankan kebutuhan kita yang sangat mendasar yaitu pangan, Alhamdulillah sumber daya utamanya  - yaitu lahan masih dimiliki negeri ini. Bahkan bukan hanya pangan yang bersifat nabati, untuk pangan yang bersifat hewani-pun sumber terbaiknya ada di negeri ini bila kita mau merubah mindset kita dalam beternak. Kita harus mampu bertahan sebagai negeri agraris, agar tetap bisa mencukupi kebutuhan pangan penduduk negeri ini yang terus tumbuh bertambah banyak. InsyaAllah.

 

 

Mindset

Tahun lalu produksi daging sapi nasional Indonesia hanya 430,000 ton atau sekitar  1.8 kg per kapita. Kalau datanya FAO menyebutkan konsumsi daging rata-rata kita adalah 10 kg per tahun per kapita, maka tambahannya perlu diisi dari  daging ayam, kambing/domba dan tentu saja daging impor. Ini hanya sekedar untuk mempertahankan tingkat konsumsi daging yang sekarang, lantas bagaimana kita bisa meningkatkan konsumsi daging per kapita sama dengan rata-rata konsumsi masyarakat dunia yang sekitar 42 kg per tahun per kapita ? jawabannya ada di mindset ! 

 

Memenuhi tingkat kebutuhan daging rata-rata sekarang saja sudah sangat berat, apalagi bila hendak meningkatkan lebih dari empat kalinya untuk sekedar menyamai rata-rata konsumsi daging penduduk dunia. Rasanya tidak terbayangkan.

 

Tetapi itulah kita, kalau kita berpendapat tidak akan bisa maka kita memang tidak akan bisa. Sebaliknya bila kita berpendapat insyaAllah bisa, maka insyaAllah kita-pun bisa. Allah menjanjikan hal ini dalam hadits qudsiNya : Aku seperti sangkaan hambaku. Siapa yang lebih benar janjiNya selain Allah ?

 

Maka inilah yang harus ditempuh di setiap perubahan besar yang akan kita lakukan, yaitu merubah dahulu mindset kita bahwa kita akan bisa. Kemudian setelah itu kita mencari jalannya. Bila mindset kita sudah tidak bisa maka kitapun pasti tidak mencari jalan untuk bisa.

 

Mindset adalah sekumpulan asumsi-asumsi yang membentuk pola pikir dan pola tindak kita. Dalam kaitan daging misalnya, asumsi-asumsi itu antara lain adalah daging identik dengan daging sapi padahal misalnya daging domba dan kambing juga tidak kalah baiknya.

 

Kita juga berasumsi bahwa untuk beternak sapi, domba dan kambing yang murah dperlukan lahan gembalaan berupa padang rumput yang luas. Karena asumsi-asumsi inilah kita menyerah pada Australia dan New Zealand untuk kebutuhan daging dan susu kita. Sama dengan ketika berperang, begitu kita berasumsi bahwa musuh lebih kuat maka kita akan defensive atau bahkan menyerah.

 

Maka solusi besar dari masalah besar perdagingan yang berpengaruh langsung pada kwalitas geerasi kini dan nanti ini harus dimulai dari perubahan besar pada  mindset kita, perubahan asumsi-asumsi di pikiran kita yang kemudian akan membentuk perubahan pada pola tindak kita.

 

Lantas dari mana memulainya ?, mumpung kita baru mulai perubahan ini maka bisa dari awal kita arahkan untuk mengikuti petunjukNya agar tidak (lagi) tersesat dalam perjalanan panjang ke depan.

 

Kita mulai dari yakin-se yakin-yakinnya bahwa janjiNya pasti benar, bahwa bila kita berpikir Dia memberi rezeki kita (termasuk daging di dalamnya) minimal sama dengan yang diberikannya pada rata-rata penduduk dunia maka kitapun akan mendapatkannya demikian - mengikuti hadits qudsi tersebut di atas.

 

Lantas karena Dia akan memberi kita daging yang jauh lebih banyak dari yang sekarang kita terima, maka jalanNya-lah yang berlaku dan bukan jalan yang selama ini kita tempuh. Bila setelah jungkir balik memproduksi daging sapi kita hanya menghasilkan daging sapi yang setara 1.8 kg per tahun per kapita, maka terlalu jauh produksi ini bila mengejar konsumsi daging yang 42 kg per tahun per kapita seperti konsumsi rata-rata penduduk dunia !

 

Lantas dari mana lompatan besar itu akan kita peroleh ? dari mana lagi kalau bukan dari Al-Quran dan sunnah-sunnah nabiNya ! Al-Quran yang dengannya gunung-pun bisa terbelah (QS 59:21), yang menjadi jawaban atas segala sesuatu (QS 16 :89), yang menjadi petunjuk, penjelasan atas petunjuk dan pembeda (QS 2:183) pasti sangat bisa menjawab seluruh persoalan daging ini.

 

Perhatikan rangkaian ayat-ayat berikut misalnya :

 

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan hijauan , zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (QS 80 : 24-32)

 

Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS 16 : 10-11)

 

 

Pemahaman dan pendalaman ayat-ayat tersebut akan segera merubah mindset kita. Bahwa lahan-lahan gembalaan terbaik itu bukan padang rumput yang luas seperti yang dimiliki oleh Australia dan New Zealand misalnya.

 

Lahan-lahan gembalaan yang diresepkanNya itu adanya di antara kerindangan tanaman-tanaman lain dari jenis biji-bijian, kurma, anggur, zaitun, segala macam tumbuh-tumbuhan, buah-buahan , rumput-rumputan, dan segala tanaman yang membentuk kebun-kebun yang lebat. Negeri mana yang memiliki ini semua ?

 

Utamanya adalah negeri-negeri tropis yang memiliki keaneka ragaman hayati yang sempurna. Negeri mana itu ? salah satu yang terbaiknya tentu adalah negeri ini, Indonesia !.

 

Jadi36;">Kuncinya ada di syirkah atau kerjasama itu, ketika kita tidak bersyirkah seperti sekarang dengan potensi ladang gembalaan yang paling baik-pun kita tetap tidak bisa makan daging secara cukup.

 

Kita bisa bersyirkah dengan para pemilik perkebunan, perhutani, pengelola jalan tol dan bahkan pengelola-pengelola lapangan golf untuk bisa menggembala di lahan gembalaan yang sangat luas.

 

Orang-orang yang pesimis pasti akan melihat masalah demi masalah. Menggembala di lahan perkebunan tidak akan diijinkan pemiliknya, juga di perhutani. Menggembala di pinggir jalan tol akan meningkatkan kerawanan pengguna tol. Menggembala di lapangan golf akan merusak keindahan lapangan golf dan segudang permasalahan lainnya.

 

Tentu ini kembali ke hadits qudsi tersebut di atas, bila kita beranggapan tidak bisa karena penuh masalah maka kita memang tidak akan bisa karena kita tidak beranjak untuk berusaha mengatasi masalah-masalah yang ada.

 

Sebaliknya bila kita optimis bisa, kita menyadari ada tantangan-tantangan besar di depan maka kita akan mulai berusaha memecahkan masalahnya satu demi satu. Golongan kedua inilah yang ingin kami ajak rame-rame untuk mulai berbuat mengatasi masalah yang nampaknya sepele - masalah daging tetapi bisa menjadi penghancur kwalitas generasi ini.

 

Kita ubah dahulu mindset kita untuk bisa, maka insyaAllah kitapun akan bisa. InsyaAllah !

 

NB:

Versi Video dari tulisan ini dapat dilihat di : http://www.youtube.com/watch?v=4ipO2845qXA&list=UUGra2IPnbA2xoSA90BGjg8Q

 

Ketika Daud Mengalahkan Jalut

Hampir setiap kita memiliki tantangan besar untuk ditaklukkan, sebagai pribadi, sebagai perusahaan/institusi, sebagai umat dan juga sebagai bangsa. Tantangan itu kadang seolah terlalu besar untuk bisa ditaklukkan sehingga kita malah memilih untuk tidak berbuat apa-apa, meskipun kita terpaksa harus hidup bersama gajah di ruang tamu kita  seperti yang pernah saya ceritakan di situs ini empat tahun lalu.  Padahal sesungguhnya ada jawaban dan petunjukNya untuk setiap masalah (QS 16:89) yang kita hadapi -  termasuk dalam menghadapi tantangan terbesar sekalipun.

 

Sebagai pribadi misalnya, banyak di antara kita yang harus hidup di lingkungan kerja yang tidak semestinya. Lingkungan kerja yang bergumul dengan riba, riswah dan sejenisnya. Kita sangat ingin keluar dan membersihkan diri dari semua itu, tetapi amat sangat berat untuk meninggalkannya sampai waktunya tiba yaitu dipaksa meninggalkannya karena usia pensiun baru saat itu terpaksa meninggalkannya.

 

Sebagai umat yang sebenarnya mayoritas dalam jumlah di negeri ini, kita terperdaya oleh sekelompok minoritas yang mengurusi berbagai aspek keperluan hidup kita. Karena yang mengurusi bukan umat ini sendiri, tidak heran bila urusan keuangan kita masih 95 % lebih ribawi. Urusan obat kita 99.3 % belum terjamin kehalalannya. Urusan terbesar dalam pangan, papan dan sandang dikuasai umat lain dan bahkan kini yang riba-pun diwajibkan ke umat ini.

 

Sebagai bangsa kita seoalah tidak berdaya dalam menghadapi masalah-masalah kronis yang sudah begitu mengakar, seperti korupsi yang nyaris merata di seluruh bidang kehidupan dan di seluruh tingkatan. Kita juga terus menghadapi musibah demi musibah yang sebenarnya karena perbuatan tangan kita sendiri, seperti banjir,  asap dlsb.

 

Lantas bagaimana solusinya ? dimana petunjukNya yang meliputi segala sesuatu itu ? PetunjukNya itu antara lain datang melalui kisah yang hampir semua kita mengetahuinya. Hanya selama ini ketika kita mendengar kisah tersebut, barangkali kita hanya memandangnya sebagaimana kisah-kisah yang lain. Menghibur, menambah pengetahuan tetapi tidak menjadi pelajaran apalagi petunjuk untuk berbuat sesuatu.

 

Nah kisah ini saya sajikan lagi dari sumber aslinya, tetapi dengan target untuk menjadi pelajaran dan petunjuk untuk berbuat sesuatu. Inilah kisah Daud ( yang masih belia) melawan penguasa perkasa bernama Jalut.

p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; line-height: 150%;"> 

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS 2 : 249)

 

Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS 2 : 250)

 

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (QS 2 : 251)

 

Peperangan tersebut sebenarnya antara Thalut melawan Jalut masing-masing dengan pasukannya. Sedangkan Daud adalah remaja belia (konon usianya baru 9 tahun) yang keberadaannya dalam perang tersebut-pun sebenarnya tidak diperhitungkan sebagai pasukan karena belianya ini. Tetapi justru melalui tangan remaja belia bernama Daud inilah musuh besar mereka yaitu Jalut berhasil dibunuh.

 

Kemenangan Thalut bersama tentaranya (dengan melibatkan didalamnya Daud) melawan kekuatan besar Jalut dan bala tentaranya tersebut, menjadi pelajaran dan petunjuk untuk kita semua dalam menghadapi berbagai tantangan terbesar kita. Inti pelajarannya ada pada beberapa poin berikut ;

 

 

1.     Untuk menaklukkan tantangan besar kita memerlukan team yang teruji.

2.     Team ini tidak boleh terkena godaan, lengah dan patah semangat di tengah jalan.

3.     Team ini haruslah  terdiri dari orang-orang yang beriman.

4.     Bukan kwantitas tetapi kwalitas, jumlah tidak menjadi masalah.

5.     Mereka bersabar dan terus berupaya untuk menghadirkan pertolongan Allah karena tidak ada kemenangan selain dengan ijin (pertolongan)text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; line-height: 150%;"> 

Juga seperti sabar yang menghadirkan kekuatan yang dijanjikan untuk umat Muhammad ini :

 

Wahai Nabi (Muhammad) !, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS 8 : 65)

 

Dalam Al-Quran ada 70 kali lebih kata sabar digunakan dalam berbagai situasi. Untuk sabar dalam situasi peperangan  oleh Imam Ghazali disebutnya sebagai syajaah atau berani. Maka sabar jenis inilah yang kita butuhkan untuk menghadapi seluruh tantangan-tantangan besar tersebut di atas. Kita harus berani melawan tantangan itu sebagaimana beraninya Daud yang masih belia melawan Jalut.

 

Keberanian ini juga bukan keberanian yang tanpa dasar atau nekad, kita berani karena yakin (pertolongan) Allah akan hadir dalam setiap perjuangan kita. Bahkan untuk ini Dia sendiri yang memberikan tuntunan cara berdoanya untuk menghadirkan pertolonganNya.

 

 

 

Bukan hanya tuntunan untuk berdoa pula, melaui hadits qudsi Dia bahkan memberikan arahan amalan-amalan yang akan menjamin terkabulnya doa, dan menjamin perlindunganNya.

 

Masih takutkah kita untuk melawan Jalut-Jalut jaman ini ? InsyaAllah tidak lagi !

 

 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger