Headlines News :

Mata Uang Dinar's Fan Box

Mata Uang Dinar on Facebook

Solusi Kuras WC Dengan Degra Simba

The Next G

Sekitar setahun lalu saya menulis tentang Generation NEET, yaitu generasi pemuda yang  menganggur total Not in Employment, Not in Education Nor in Training. Kini berkembang lebih luas lagi penyakit pemuda itu - mereka bisa saja sedang sekolah atau kuliah dan bahkan memiliki pekerjaan, tetapi mereka nyaris tidak memiliki kemauan atau sekedar mengetahui apa yang hendak dia lakukan untuk masa depannya. Mereka inilah yang disebut Generation TBD ( To Be Decided), apa bahayanya ?

 

Generasi muda yang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya untuk masa depan, atau yang dalam bahasa sunda disebut dalam istilah kumaha engke wae bagaimana nanti sajalah ini menatap masa depannya dengan pandangan yang kosong, mereka seperti buih yang jumlahnya sangat banyak tetapi nyaris tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi keluarga, masyarakat, negara dan umat. Mereka menjadi liability dan bukannya asset !

 

Jumlah yang sangat banyak rata-rata penduduk dunia 25 %-nya adalah usia pemuda (16-24 tahun), hanya diperebutkan  suaranya untuk pemilihan umum tetapi setelah itu nyaris tidak ada program khusus untuk mempersiapkan masa depan yang lebih jelas bagi anak-anak muda ini.

 

Bagaimana generation TBD ini bisa dicegah sebelum jumlahnya terus bertambah besar, atau diobati bila sudah terlanjur menjadi penyakit masyarakat luas ?

 

Cara yang paling efektif adalah menanamkan ke-imanan yang sampai merasuk di hati mereka, bukan sekedar ilmu tentang apa itu iman, ilmu tentang rukun iman dan lain sebagainya.

 

Dengan keimanan yang kuat terhadap Allah dan hari akhir misalnya, pemuda-pemudi akan sigap berbuat bukan hanya untuk masa depannya di dunia tetapi bahkan yang lebih penting adalah masa depannya dalam kehidupannya yang abadi kelak.

 

Mereka adalah generasi yang merespon ayat berikut : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yantelah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 59:18)

 

Saya merasa beruntung sekali bisa ikut menyaksikan lahirnya the Next G, generasi berikutnya yang insyaAllah akan berkwalitas sangat baik ini. Saya berinteraksi dengan mereka hampir setiap hari, salaman dengan mereka hampir setiap kali selesai sholat fardhu di Masjid. Mereka adalah anak-anak tetangga saya yang rame-rame menjadi santri di Kuttab Al-Fatih.

 


 

Perhatikan photo di atas yang saya ambil pada suatu hari selesai sholat dhuhur. Perhatikan keceriaan wajah-wajah mereka, keceriaan anak-anak usia sekitar 10 tahun sebagaimana anak-anak pada umumnya. Tetapi apa yang membedakan mereka dengan anak-anak seusianya ?

 

Perhatikan posisi tangan anak yang di tengah, snap shot photo yang tidak disengaja apalagi  direkayasa ini menunjukkan keseharian aktifitas mereka. Dalam kegembiraan anak-anak yang sedang bercengkerama-pun mereka sambil murajaah hafalan Al-Quran mereka. Lihat tangannya yang sedang menandai posisi halaman-halaman Al-Quran yang sedang dia hafalkan. Anak-anak dalam foto tersebut memiliki rata-rata hafalan 4-5 juz, beberapa teman santri nya bahkan sudah beberapa di atas 10 juz.

 

Bukan hanya hafalannya yang membedakan mereka dengan anak-anak yang lain, sholat di Masjid dengan mereka menjadi sangat hening karena meskipun di usia anak-anak mereka tidak ribut ketika sholat.

 

Lebih dari itu, tanda-tanda keimanan yang lain juga menyertai mereka. Ini pengakuan seorang mukhsinin orang tua dari teman-teman anak-anak yang di photo tersebut. Suatu hari dia melihat anaknya menangis tersedu-sedu menjelang tidur, ketika ditanya oleh orang tuanya kenapa menangis ? jawabannya adalah karena dia takut masuk neraka !

 

Dipeluklah anak ini oleh orang tuanya, sambil didoakan dan dihibur : Tidak nak, insyaAllah kamu tidak akan masuk neraka!. Orang tua yang shaleh inipun menyadari dan bersyukur sekali betapa Iman terhadap hari akhir telah merasuk ke hati putrinya yang masih sangat belia.

 

Mukhsinin yang juga agniya inilah yang kemudian mewakafkan seluruh tanah dan bangunan berupa masjid, asrama, kantor, kantin dan rumah-rumah kyai untuk  Madrasah kami di sentul. InsyaAllah bila sudah siap, masjidnya bisa kita pakai Itikaf rame-rame di akhir Ramadhan nanti.

 

Dengan wakaf full facility untuk madrasah inilah nantinya apa yang sudah dipelajari anak-anak di tingkat Kuttab akan terus dilanjutkan. Di madrasah mereka insyaAllah akan menyelesaikan hafalannya untuk 30 juz, hafal kitab hadits Bulughul Maram minimal dan juga mandiri dalam kehidupannya.

 

Dua tahun terakhir dari 6 tahun usia mereka di madrasah adalah untuk menyiapkan mereka mandiri secara ekonomi di bidang-bidang pilhannya masing masing. Mulai dari Pertanian, peternakan, teknologi informasi, kesehatan, perdagangan dan berbagai mata pekerjaan lainnya yang dibutuhkan saat itu.

 

Kategori : Umum
Published on Wednesday, 11 June 2014 06:52
Oleh : Muhaimin Iqbal

Proses Merah Dan Proses Hijau

Revolusi industri yang terjadi sejak akhir abad 18 sampai pertengahan abad 19 tidak dipungkiri menghadirkan manfaat yang luar biasa bagi kesejahteraan umat manusia di dunia. Tetapi kemajuan ini bukannya tanpa dampak, over-industrialized terhadap hampir seluruh aspek kehidupan manusia membuat manusia overlook terhadap proses alam yang sempurna yang ada di depan mata kita. Dalam urusan pangan misalnya, begitu banyak kita mengandalkan hasil proses industri sampai melupakan bahan baku dan proses yang seharusnya menjadi keunggulan kita. 

 

Ambil contoh misalnya semangkuk mie instan di meja makan kita.  Betapa panjang perjalanan mie ini untuk sampai siap kita santap. Gandumnya ditanam di Amerika dan perlu waktu sekitar 9 bulan sebelum siap panen. Dikapalkan ke Indonesia menempuh jarak sekitar 20,000 km dalam 32 hari perjalanan, diproses di pabrik tepung dan kemudian disdistribusikan dahulu sebagai tepung.

 

Setelah menjadi tepung, dia diproses lagi di pabrik roti atau pabrik mie instan sebelum didistribusikan sebagai produk akhir ke konsumen. Perjalanan yang panjang ini tentu membutuhkan sangat banyak energi, mulai dari energi untuk traktor-traktor yang mengolah tanah untuk penanamannya sampai energi untuk masak mie di rumah kita. Proses yang panjang dan padat energi ini saya sebut saja red process atau proses merah.

 

Di lain pihak ada proses makanan yang tidak kalah enaknya tetapi menggunakan jalur yang jauh lebih  pendek. Rumput yang tumbuh di kebun-kebun kita tidak butuh energi untuk menanamnya, rumput ini kemudian dimakan domba dan ternak lain juga tidak butuh energi. Sampai kita sembelih-pun tidak membutuhkan energi. Dia baru butuh energi ketika kita kirim ke tukang-tukang sate dan kemudian tukang sate-pun perlu membakarnya. Proses yang pendek dan sedikit melibatkan energi ini saya sebut green process atau proses hijau.

 

Produk akhir dari process hijau tidak kalah dengan hasil proses merah, bahkan kalau disuruh milih makan mie instan/roti atau makan sate, hampir pasti kita akan memilih makan sate. Bukan karena kita orang Indonesia, ketika CNN mengadakan survey makanan paling lezat di dunia sate masuk no 14 makanan terlezat  di dunia sedangkan roti dan mie tidak masuk 50 besar.

 

Lantas mengapa jauh lebih banyak orang makan mie instan ketimbang makan sate atau produk berbasis daging lainnya ?, karena mie instan sudah menjadi bagian industri yang sangat besar lengkap dengan kampanye iklannya. Dalam 40 tahun terakhir, mie yang dahulunya makanan pendamping atau lauk telah berubah menjadi makanan utama.

 

Sementara makanan sate dan makanan berbasis daging lainnya, tingkat konsumsinya stagnan dan bahkan nyaris cenderung menurun - dengan posisi sekarang imana orang Indonesia rata-rata hanya mengkonsumi daging 10 kg/tahun/kapita, sementara tingkat konsumsi daging dunia telah mencapai 41 kg/tahun per kapita. Itupun setelah kita melakukan berbagai impor mulai dari  bahan pakan ternak sampai impor daging bekunya.

 

Mengapa ketimpangan ini terjadi ? dalam hal makanan kita terobsesi dengan hasil-hasil dari proses merah dari hulu ke hilirnya, dan nyaris mengabaikan proses hijau yang ada di sekitar kita. Industri proses merah menarik begitu banyak investor sehingga terus membesar dari waktu ke waktu, sementara industri proses hijau nyaris terabaikan.

 

Kita rela mengimpor begitu banyak biji gandum yang dengan susah payah ditanam dan dikirim menempuh perjalanan separuh bumi, ketimbang mengapresiasi rumput-rumpur yang tumbuh di sekitar kita. Biji gandum adalah bahan baku untuk proses merah, sedangkan rumput adalah bahan baku gratis untuk proses hijau.

 

Kita perlu aware akan adanya proses merah dan proses hijau ini untuk menjadi sumber inspirasi kita dalam membangun kekutan ekonomi dan daya saing, utamanya menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun depan. Industri berbasis proses hijau mengandalkan bahan baku  dan pabrik hijau, yang sumber utamanya ada di negeri ini.

 

Industri hijau juga memiliki daya saing tersendiri di era globalisasi dan kesadaran dunia untuk mampu menghadirkan pertumbuhan yang berkesinambungan sustainable growth. Ketika industri proses merah mengandalkan bahan bakar fosil yang semakin langka, industri proses hijau justru menghadirkan berbagai alternatif bahan bakar baru.

 

Ketika gandum ditanam sampai disajikan di meja makan mengkonsumsi begitu banyak energi fosil, rumput yang diproses sampai menjadi sate mengkonsumsi energi fosil yang jauh lebih sedikit dan bahkan secara tidak langsung bisa menghadirkan berbagai energi terbarukan.  Tanaman-tanaman yang tumbuh subur setelah dipupuk tanpa sengaja oleh domba-domba yang berkeliaran mencari makan ketika digembala di antara pepohonan, bisa diolah untuk menghasilkan bio ethanol maupun bio diesel. Ketika malam hari istirahat, ternak-ternak tersebut masih membuang kotorannya di kandang inipun bisa menjadi sumber energi bio gas.

 

Bukan berarti kita tidak butuh industri-industri yang berbasis proses merah, keberadaannya saja yang perlu ditekan hanya pada yang benar-benar perlu. Sebaliknya industri-industri yang berbasis proses hijau yang harus terus digali dan dikembangkan, karena jenis proses inilah yang akan melestarikan bumi sambil memenuhi kebutuhan pokok manusia berupa pangan, energi dan air (FEW, Feed Energy and Water) secara berkelanjutan.

 

Kesadaran akan adanya proses hijau ini diharapkan juga membangkitkan rasa syukur kita terhadap begitu banyak nikmatNya yang ditaburkan di sekitar kita. Dan ketika kita pandai bersyukur, akan terus ditambahkan nikmatNya itu antara lain berupa peluang-peluang berikutnya. InsyaAllah.

Menangis Di Bumi Nan Cantik

Akhir pekan ini saya menikmati perjalanan kereta melalui tiga provinsi yaitu dari Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setelah melewati Jakarta dengan kekumuhan pinggir rel dan hiruk pikuknya, memasuki daerah Jawa Barat yang hijau terasa tentram dan penuh syukur rasanya kita dikarunia bumi yang seindah ini. Puncak keindahannya adalah ketika sampai ke Jawa Tengah di daerah yang secara harfiah disebut Bumi Nan Cantik (Bumiayu !) - alam terasa sangat indah dengan air jernih yang mengalir di mana-mana dan hijaun membentang sejauh mata memandang. Tetapi justru disinilah hati ini menangis ! mengapa ?

 

Ironi demi ironi saya temukan sepanjang perjalanan. Jakarta dengan tingkat PDB per kapita yang mencapai angka Rp 126.12 juta tahun 2013, seharusnya penduduknya makmur dilihat dari standar manapun. Dibandingkan standar kemiskinan US$ 2/hari-nya Bank Dunia, berarti penduduk Jakarta sekitar 15 kali lebih makmur. Dibandingkan dengan standar nishab zakat 20 Dinar, maka penduduk Jakarta rata-rata adalah lebih dari 2.5 kali dari standar kemakmuran Islam ini.

 

Tetapi mengapa kekumuhan masih terlihat di mana-mana ?, ya karena terjadi ketimpangan dalam angka PDB tersebut. Di Jakarta tempat berkumpulnya para konglomerat dengan pendapatan selangit, pada saat yang bersamaan juga menjadi tempat tinggal penduduk miskin yang luar biasa jumlahnya.

 

Ketika kereta memasuki daerah Jawa Barat, bumi mulai menampakkan keindahannya. Kehijauan ada di mana-mana, tetapi sayang sekali ternyata keindahan dan kehijauan tidak identik dengan kemakmuran. Jawa Barat yang langsung berbatasan dengan DKI Jakarta, ternyata hanya memiliki PDB per kapita yang kurang dari seperlima Jakarta angkanya di sekitar Rp 23.01 juta per kapita untuk tahun 2013.

 

Memasuki Jawa Tengah, bumi nampak semakin indah. Ketika kereta melewati Bumiayu entah siapa dan kapan daerah ini diberi nama demikian, yang jelas kecantikan daerah ini nampak jelas dari dalam kereta. Setiap sekian menit perjalanan kereta, Anda akan dengan mudah menemukan sungai-sungai yang mengalirkan air yang (masih) sangat jernih. Rerumputan yang hijau tebal menghiasi tanah-tanah di sepanjang kanan-kiri rel kereta entah berapa kilometer panjangnya.

 

Yang membuat hati menangis adalah justru keindahan ini. Mengapa di bumi yang begitu Indah ini PDB rata-rata penduduknya (Jawa Tengah) hanya sekitar sepertujuh dari DKI Jakarta ? PDB per kapita Jawa Tengah hanya 18.75 juta untuk tahun 2013.  Angka ini bila dilihat dari standar kemiskinan dari kacamata nishab zakat, hanya 47% dari nishab zakat !

 

Salah satu sebab yang menjadikan penduduk negeriini tidak mencapai kemakmuran yang seharusnya barangkali karena kita kurang pandai atau kurang serius memanfaatkan sumber daya yang melimpah di alam. Air jernih dan rerumputan hijau yang merupakan kemewahan bagi saudara-saudara kita di Sub-Sahara Afrika misalnya, nyaris tidak dimanfaatkan sama sekali dan bahkan cenderung disia-siakan.

 

Dengan mata kepala saya sendiri (dan ini yang membuat hati menangis !), saya melihat rerumputan hijau tebal di sepanjang pinggiran rel kereta tersebut dibabat dan dibakar ! Tidak-kah (pemimpin-pemimpin) mereka pernah membaca : (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS 3:191) ?

 

Kalau saja rerumputan yang melimpah di pinggir rel, di pinggir jalan raya, dibawah kebun-kebun, di area kehutanan tidak dibabat dan dibakar, tetapi dikerahkan domba untuk merapikannya sekaligus memupuk lagi bumi yang dipijaknya betapa banyak kemakmuran yang bisa dihasilkannya .

 

Tentu perlu hal-hal teknis yang dipersiapkan, misalnya bagaimana agar domba yang digembalakan di pinggir rel kereta dan dipinggir jalan raya/tol tidak malah membahayakan keselamatan manusia yang lalu lalang dengan kereta dan kendaraannya. Tetapi masalah ini tidak sampai memerlukan rocket scientist untuk memikirkannya, salah satu solusinya adalah dengan menggunakan teknik precision grazing penggembalaan presisi yang pada waktunya akan saya tulis dan jelaskan secara terpisah, insyaAllah sudah sangat cukup.

 

Bila dari 8 ekor domba untuk bisa mencapai 40 ekor domba perlu waktu 2-4 tahun, dan kita tahu standar nishab zakat untuk domba adalah 40 ekor maka hanya perlu waktu 2-4 tahun inilah penduduk yang penghasilannya dibawah nishab zakat (miskin) bisa diangkat menjadi wajib zakat (kaya). Tetapi mengapa hal yang sangat masuk akal ini belum dilakukan atau dicoba lakukan ?

 

Salah satunya adalah karena ayat-ayatNya baik yang qauliyah seperti ayat tersebut di atas, maupun yang kauniyah seperti rumput hijau yang melimpah di bumi nan cantik ini belum dibaca, belum dipahami apalagi ditindak lanjuti.

 

Maka perjalanan saya kali ini menjadi sangat relevan. Di ujung perjalanan saya berhenti di stasiun Purwokerto, di kota pelajar yang berusaha mengejar kota-kota pelajar lainnya yang lebih dahulu tumbuh ini saya dan team hadir untuk membuka cabang sekolah kami Kuttab Al-Fatih yang ke enam.

 

Apa bedanya Kuttab Al-Fatih dengan sekolah-sekolah lainnya ? Di Kuttab Al-Fatih, anak-anak bukan hanya diajari membaca, menghafalkan dan memahami ayat-ayat qauliyah ini memang menjadi standar kami, anak 12 tahun lulus Al-Fatih standar minimalnya hafal 7 juz dan mulai mengerti dan melatih penerapannya di beberapa bidang tetapi juga melatih mereka untuk bisa membaca, memahami dan merespon ayat-ayat kauniyahNya.

 

Bersama Kuttab Al-Fatih Jawa Tengah yang telah lahir sebelumnya yaitu yang di Semarang , kehadiran Kuttab Al-Fatih Purwokerto ini diharapkan dapat mengakselerasi kehadiran generasi unggulan yang nantinya insyaAllah mampu dengan sungguh-sungguh dan nyata dalam ikut merespon perintah Allah untuk memakmurkan bumi ini. InsyaAllah

 

Kategori : Umum
Published on Sunday, 27 April 2014 08:03
Oleh : Muhaimin Iqbal

Sarung Kependekan

Dahulu desa-desa di Jawa bisa sangat dingin di pagi hari, maka sarung adalah pakaian multi purpose. Dipakai sebagai pakaian laki-laki umumnya di siang sampai sore hari, dan digunakan untuk selimut di malam sampai pagi hari. Tetapi ketika kain sarung masih menjadi barang mewah, tidak semua orang bisa membeli sarung dengan ukuran yang cukup. Maka dari sinilah muncul istilah kemulan sarung, kita harus melipat tubuh kita agar sarung yang kependekan tadi cukup untuk menutupi seluruh tubuh kita.

 

Bila badan kita lurus, sarung kependekan tidak akan cukup menutup seluruh tubuh kita. Kita tarik ke atas menutupi badan bagian atas kaki menjadi kedinginan, sebaliknya kita tarik kebawah untuk menutupi kaki badan bagian atas yang kedinginan.

 

Sarung yang kependekan inilah prinsip ekonomi kapitalis yang mendasarkan benda-benda ekonomi sebagai benda-benda yang mengalami kelangkaan atau scarcity. Ketika benda-benda yang langka atau terbatas digunakan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan manusia yang relative tidak terbatas maka benda apapun bisa menjadi barang mahal karena kelangkaannya.

 

Akibatnya akan selalu ada kebutuhan yang dikorbankan, setiap satu masalah diatasi ada masalah lain yang tidak diatasi atau malah timbul masalah-masalah baru. Solusi satu sisi (side) menimbulkan masalah-masalah baru di sisi lain (side effects atau efek samping).

 

Hal ini bisa dilihat dari hampir semua obat-obat yang dibuat pabrik farmasi untuk mengatasi penyakit, rata-rata memiliki efek samping yang kadang malah lebih besar dari penyakit yang coba diobati.

 

Hal yang sama juga terjadi di bidang lain, pertumbuhan ekonomi dunia selama ini hampir selalu berdampak pada penurunan kwalitas lingkungan dan daya dukung kehidupan di bumi ini sendiri. Dari sinilah kemudian di tahun 1992 di Rio de Janeiro para  pemimpin-pemimpin dunia menyepakati perlunya mengawal pertumbuhan ekonomi dengan apa yang mereka sebut sustainable development. 

 

Kini meskipun sudah 22 tahun sejak deklarasi tersebut disepakati, pertumbuhan ekonomi dunia masih belum berubah arah. Efek samping dari pertumbuhan berupa kerusakan lingkungan makin menjadi-jadi. Banjir di Jakarta yang dahulunya lima tahunan kini menjadi setiap ada hujan ya banjir, di Riau dan sekitarnya setiap musim kering ya ada musibah asap inilah sebagian dari efek samping pertumbuhan yang kini kita rasakan langsung.

 

Contoh lain adalah masalah energi, ketika dunia berusaha melepas ketergantungan pada  non renewable energy ke renewable energy seperti bioethanol dari Jagung yang ditempuh Amerika misalnya, maka efek samping yang luar bisa terjadi pada krisis pangan. Ketika jagung yang seharusnya untuk makanan manusia dan ternak dijadikan bioethanol, di Meksiko sampai terjadi huru hara tortilla.

 

Lantas bagaimana kita bisa mencari solusi dari masalah-masalah kita agar solusi tersebut tidak malah menimbulkan efek samping yang lebih besar ? Agar solusi kita tidak seperti sarung kependekan tersebut di atas ?

 

Disinilah perlunya petunjukNya itu ! Ilmu manusia terlalu sedikit dan pengalamannya terlalu pendek untuk bisa menyombongkan diri bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapinya. Bahkan teman saya yang professor science-pun mengakui bahwa ilmu manusia saja tidak menyelamatkan.

 

Petunjuk tersebut datang dari Yang Maha Tahu, kebenarannyapun abadi hingga akhir jaman maka bila solusi-solusi itu mengikuti petunjukNya, insyaAllah dia akan mengandung kebaikan yang banyak dan tanpa efek samping yang merugikan.

 

Ambil contoh kasus solusi energi tersebut di atas. Setinggi apapun ilmunya orang barat membuat energi bioethanol dari jagung dan sejenisnya penolakannya akan sangat besar, ya karena efek sampingnya pada kelangkaan pangan manusia dan pakan ternak.

 

Seandainya ilmu ini di-guided dengan petunjukNya, maka insyaAllah hasilnya akan lain. Allah memberi petunjukNya bahwa energi (api) itu datang dari pohon (syajara) yang hijau (QS 56:72 dan QS 36 : 80) bukan dari tanaman-tanaman (zara).

 

Pencarian energy hijau seharusnya fokus dari yang dihasilkan oleh pepohonan dan bukan dari tanaman-tanaman seperti jagung, gandum, padi dan sejenisnya. Kelompok yang terakhir ini lebih diarahkan untuk keperluan pangan.

 

Pepohonan yang mengandung serat, atau buah yang mengandung gula dapat diarahkan kemudian untuk membuat (sebagiannya) bioethanol misalnya. Sedangkan pepohonan yang menghasilkan buah yang mengandung minyak, sebagiannya bisa untuk menghasilkan biodiesel.

 

Pendekatan pohon untuk energy ini kemudian akan menghadirkan berbagai kebaikan yang lain, akan semakin banyak pohon-pohon yang ditanam oleh manusia untuk diambil buahnya sebagai bahan bioethanol ataupun biodiesel.

 

Pohon-pohon yang semakin banyak ditanam akan membersihkan udara dari pencemaran CO2, mengamankan supply air di tanah, menurunkan suhu permukaan bumi, membangun kembali ecosystem dan mengembalikan kekayaan hayati.

 

Maka agar solusi atas masalah-masalah kita tidak seperti sarung kependekan tersebut di atas, awalilah dengan memohon petunjukNya. Setiap solusi yang datang dari petunjukNya, dia bukan hanya mengatasi masalah yang  ada tetapi juga mengandung kebaikan-kebaikan lain yang sangat banyak. Insyaallah.

 

Pak Kyai Di Sidang Kabinet Baru

Di setiap krisis yang dihadapi bangsa ini, saya selalu bermimpi guru imaginer saya Pak Kyai turut hadir menyelesaikannya. Maka seperti mimpi-mimpi sebelumnya ketika negeri ini menghadapi krisis inflasi  meningkatnya jurang antara si kaya dengan si miskin dan krisis bahan pangan, untuk kesekian kalinya saya bermimpi Pak Kyai hadir kembali di sidang kabinet. Kali ini kejadian dalam mimpi tersebut adalah ketika rangkaian PEMILU eksekutif 2014 telah berakhir, Presiden baru lengkap dengan seluruh jajaran menterinya baru dilantik.

 

Dalam sidang kabinet pertama, Presiden baru kita ingat dengan janji-janjinya selama masa kampanye. Bahwa dia antara lain menjajikan swasembada pangan bagi negeri ini, bahwa dia menjanjikan negeri yang kuat dalam bidang ekonomi sehingga tidak ditekan-tekan dan didekte oleh negeri-negeri asing.

 

Kabinet kali ini diisi oleh para pakar dan professional di bidangnya masing-masing, namun demikian Pak Presiden belum sepenuhnya puas dengan pemikiran para menteri untuk menghadapi krisis multi dimensi yang dihadapi saat itu.

 

Di bidang ekonomi krisis itu terindikasi dari rendahnya daya beli masyarakat, rendahnya kwalitas dan kwantitas pangan mereka, terus menurunnya nilai tukar Rupiah, terus merosotnya cadangan devisa, ekonomi biaya tinggi di hampir seluruh sektor dlsb. dlsb.

 

Maka setelah seluruh menteri menyampaikan garis besar pemikiran mereka masing-masing, Pak Presiden berbicara dengan Pak Kyai.

 

Begini Pak Kyai, saya mendengar sudah beberapa kali dalam pemerintahan sebelumnya Pak Kyai diundang untuk hadir dalam sidang kabinet semacam ini. Maka tradisi baik dari pendahulu saya tersebut ingin saya teruskan dan bahkan tingkatkan, saya ingin ada wawasan lain diluar yang sudah biasa saya dengar dari para menteri dan pembantu saya lainnya. Monggo Pak Kyai, kami semua ingin menyimak

 

Dengan penampilan yang santai, memakai sarung dan kopyah hitam miring Pak Kyai seolah memecah kekakuan suasana sidang kabinet. Setelah mengucapkan syukur kepada Allah dan menyampaikan shalawat dan salam kepada Junjungan kita Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam Pak Kyai-pun mulai bicara :

 

Mohon maaf bapak Presiden, sebelum saya menyampaikan uneg-uneg saya, saya ingin memberi hadiah kepada Pak Presiden. Kemudian Pak Kyai menyampaikan hadiahnya berupa koin emas seperti dalam gambar disamping. Ditengah keheranan pak Presiden dan para menteri yang hadir, Pak Kyai kemudian menjelaskannya.

 

Koin emas tersebut adalah perlambang amanah kepada bapak Presiden dan para menteri. Koin itu di bahasa bapak-bapak sekalian adalah yang disebut unit of account, dalam bahasa pesantren saya adalah timbangan yang adil. Dalam bahasa bapak-bapak dia adalah perlambang store of value, dalam bahasa kami dia adalah alat untuk mempertahankan nilai atau bagian dari ketahanan ekonomi (yukhsinun).

 

Maksudnya adalah, agar dalam lima tahun jabatan bapak-bapak sekalian kedepan, bapak-bapak bisa berperilaku adil terhadap rakyat. Dan Bapak-bapak juga harus bisa membangun ketahanan ekonomi negeri ini, mampu meningkatkan dan kemudian juga mempertahankan daya beli masyarakatnya.

 

Pak Presiden kemudian menyela : Menarik sekali Pak Kyai, tapi apa hubungannya koin ini dengan masalah yang kini kita hadapi ? apa solusi  kongkritnya menurut pak Kyai ?. pak Kyai-pun tidak sabar untuk segera menjelaskannya :

 

Begini bapak  Presiden dan bapak-Ibu menteri sekalian. Ekonomi kita lemah, cadangan devisa terkuras dan nilai tukar uang kita terpuruk karena kita belum berhasil membangun keunggulan-keunggulan berdasarkan resources yang kita miliki.

 

Selain bahan bakar, kita harus mengimpor bahan-bahan pangan dari tepung sampai daging dan susu padahal kita hidup di bumi Allah yang paling kaya keaneka ragaman hayati kita dan mendapatkn hujan sangat cukup disamping sinar matahari sepanjang tahun. Hanya beberapa negeri katulistiwa saja yang memiliki keunggulan semacam ini di dunia.

 

Adapun koin yang saya berikan ke bapak Presiden tadi, itu hanyalah simbul bahwa hanya dengan domba atau kambing-pun negeri ini bisa bangkit, membangun cadangan devisa, mencukupi kebutuhan pangan sekligus menyuburkan kembali lahan-lahan kita yang mulai gersang.

 

Bapak menteri pertanian bisa cek, bahwa tahun lalu produksi daging sapi  kita hanya 430,000 ton atau kalau dibagi rata-rata penduduk hanya kebagian 1.8 kg per tahun per kapita. Setelah ditambah impor, daging domba, kambing, ayam dlsb, konon menurut datanya FAO kita bisa makan daging sampai 10 kg per tahun per kapita. Inipun kurang dari ¼ konsumsi rata-rata penduduk dunia yang berada di kisaran 41 kg per tahun per kapita.

 

Sekarang saya akan tunjukkan bahwa kita bisa meningkatkan konsumsi daging kita untuk mencapai rata-rata penduduk dunia atau empat kali dari sekarang, pada saat yang bersamaan kita meningkatkan devisa dari berbagai sektor !.

 

Karena melihat wajah-wajah para menteri yang mengekspresikan kekurang percayaannya. Pak Kyai-pun melanjutkan :

 

Selama ini kita perfikir sektoral. Menteri kehutanan fokus ngurusi hutan dan tentu saja harus berusaha mempertahankan kekayaan yang satdan melimpah, bertani kita menjadi variatif karena tidak hanya menanam tanaman semusim tetapi juga tanaman-tanaman jangka panjang yang bisa dipetik hasilnya secara terus menerus tanpa perlu menanam ulang setiap saat. Ternak kita memperoleh pakan yang melimpah tidak perlu membeli.

 

Merasa bidangnya disinggung Pak Kyai, menteri pertanian-pun menyela : Mohon maaf Pak Presiden, boleh kami menyela ? Setelah diijinkan oleh pak Presiden menteri pertanian-pun menyela penjelasan Pak Kyai : Begini Pak Kyai, apa yang Pak Kyai sampaikan tersebut seolah ideal padahal belum ada bukti keberhasilannya di lapangan. Sedangkan kita butuh solusi-solusi yang konkrit yang sudah ada bukti keberhasilannya.

 

Merasa tertantang, pak Kyai-pun menjelaskan ; Justru inilah buktinya bapak Presiden dan para menteri, kita sudah 69 tahun merdeka tetapi kita tidak mandiri pangan. Bukankah ini bukti bahwa pendekatan yang ditempuh selama ini gagal ? bukankah kita perlu menempuh jalan lain agar kita tidak gagal lagi dan gagal lagi ?, bukankah bapak-bapak sekalian juga tidak ingin me jadi pemerintahan yang gagal dalam lima tahun kedepan ?.

 

Tetapi apa jalan lain itu ?, rakyat telah lelah menjadi ajang percobaan system ekonomi demi system ekonomi. Ekonomi Orde Lama berujung hiper inflasi dan sanering, ekonomi Orde Baru berujung pada ekononomi kroniisme yang hanya menguntungkan segelintir orang. Ekonomi era reformasi hanya berujung negeri ini jadi bancakan raja-raja kecil dari daerah sampai pusat !

 

Tidak ada jalan lain, kita harus kembali ke system ekonomi yang benar. Ekonomi yang berbasis petunjukNya. Mendengar ini, menteri ekonomi yang Doctor lulusan barat memotong : Tetapi apa ada pak Kyai konsep ekonomi yang berbasis petunjuk itu ? seperti apa konkritnya, dan dimana diterapkan secara berhasil ?

 

Merasa seperti dikeroyok para menteri, Pak Kyai-pun tidak kalah sigap : Allah berjanji bahwa kitabNya adalah petunjuk, penjelasan dan jawaban untuk segala bidang. Maka pasti urusan ekonomi yang begitu besar mengurusi hajat hidup orang banyak-pun ada tuntunan detilNya.

 

Seperti kombinasi antara hutan/kebun dengan pertanian dan penggembalaan ternak tersebut, petunjuknya bergitu jelas dan lengkap. Lalu pak Kyai membacakan dan menjelaskan tafsir Surat An-Nahl 10-11 dan Abasa 24-32.

 

Pak Presiden yang manggut-manggut akhirnya menengahi : Saya paham, perdebatan ini hanya masalah pendekatan yang berbeda. Para menteri mendekati masalah dengan keahliannya, Pak Kyai mendekati masalah dengan petunjukNya. Justru inilah yang saya kehendaki, setiap masalah didekati dengan petunjukNya, kemudian ditindak lanjuti di lapangan dengan profesionalisme dan keahlian di masing-masing bidang.

 

Ganti Pak Kyai yang manggut-manggut: betul Pak Presiden, PetunjukNya harus menjadi panglima dalam setiap masalah yang kita hadapi dan akan selesaikan, kemudian seluruh jaringan keahlian dan profesionalisme di masing-masing bidang akan menjadi para prajuritnya di bidang masing-masing.

 

Pak Presiden kemudian mengarahkan : Kongkritnya seperti apa Pak Kyai, bagimana dengan WATANA tadi kita akan bisa membangun kekuatan ekonomi, bisa meningkatkan cadangan devisa dan bisa swasembada pangan ?

 

Begini pak Presiden dan bapak-ibu menteri, bila kita menjadikan hutan, kebun dan lahan kita sekligus menjadi lahan gembalaan maka kita akan bisa memproduksi daging yang murah. Bersamaan dengan itu lahan-lahan akan subur dengan sendirinya, otomatis hasil berupa bahan makanan lain akan juga menjadi murah dan melimpah. Dari sini saja kita sudah tidak akan mengimpor bahan-bahan makanan termasuk daging dan susu.

 

Pak Presiden masih menyampaikan pertanyaan lanjutan : Apakah bisa pak Kyai ini dilakukan ?, apakah te

Digaji Dengan Kambing Mau

Salah satu bukti kebenaran Islam itu terletak pada keadilan hukum-hukumnya sepanjang jaman. Sejak jaman Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam sampai sekarang, orang yang melanggar larangan haji dendanya (dam) tetap menggunakan standar kambing. Demikian pula untuk aqiqah ketika anak kita lahir, tetap menggunakan kambing.  Bayangkan kalau denda  itu berupa uang kertas, harus terus menerus direvisi karena nilainya yang terus menyusut.

 

Standar denda atau kewajiban berupa benda riil ini menjadikan manfaat denda atau kewajiban tersebut tetap dapat dirasakan - atau dengan kata lain tetap bernilai sepanjang jaman. Standar nilai terbaik berupa kambing atau domba ini juga dikuatkan dalam dua hadis berikut :

 

Dari Abu Said berkata : Rasulullah SAW bersabda : Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim). (H.R. Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang diatasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang diatasnya dengan bersemangat untuk mencari kematan dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa.  Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan sholat, memberikan zakat dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka. (H.R. Muslim).

 

Berdasarkan dua hadits sahih tersebut kita menjadi paham kini  bahwa kambing adalah harta muslim terbaik dan menggembalakannya adalah penghidupan terbaik setelah berjihad. Hal ini antara lain juga bisa difahami dari manfaat atau kegunaan kambing-kambing atau domba tersebut. Bila kambing atau domba tidak ada, dengan apa muslim mebayar dam-nya ?, dengan apa dia ber-aqiqah ? dengan apa dia ber-qurban ?

 

Syariat Islam akan terus tegak di muka bumi sampai akhir jaman, maka memelihara sarana untuk penegakannya antara lain seperti memelihara ketersediaan kambing/domba tersebut menjadi salah satu pekerjaan terbaik di muka bumi sampai akhir jaman.

 

Di jaman modern ketika uang dibuat dari awang-awang berupa uang kertas yang nilainya terus menyusut, atau uang dibuat dari bit-bit digital seperti bitcoin dan sejenisnya yang semuanya tidak memiliki acuan nilai baku, maka menjadi semakin penting bagi umat ini untuk memiliki standar nilainya sendiri. Standar nilai itu bisa berupa Dinar dan Dirham seperti yang sudah diperkenalkan situs ini selama enam tahun terakhir, atau dengan standar kambing yang sedang kami persiapkan segala systemnya.

 

Keduanya memiliki kesamaan, Dinar dan Dirham mengacu pada nilai fisik emas dan perak. Sedangkan kambing mengacu pada nilai fisik kambing atau domba. Dinar dan Dirham bagi komunitas pembaca situs ini tentu sudah sangat familiar seluk beluknya, tetapi bagaimana dengan satuan kambing ?

 

Dalam sejarah Islam, kambing atau domba ternyata juga bukan hanya untuk qurban, aqiqah, membayar dam, dan memenuhi kebutuhan daging sehari-hari.  Tetapi juga dipakai untuk standar gaji bagi para ulama, guru dan profesi-profesi lain, ini sangat bisa dipahami karena kambing atau domba dapat secara akurat merepresentasikan kebutuhan dan nilai yang berlaku di masyarakat pada masing-masing jamannya.

 

Lantas kalau sekarang kita sudah familiar memiliki tabungan dalam uang kertas yang sebenarnya kita sadari nilainya terus berkurang, sebagian kita juga mulai mengenal uang digital yang tidak memiliki nilai intrinsik mengapa tidak kita juga mengenal simpanan berupa harta terbaik (berdasarkan hadis tersebut di atas) berupa kambing atau domba ?

 

Bayangkan kalau tabungan Anda berp class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; line-height: 150%;"> 

Kebun-kebun yang kami kelola misalnya, bisa menjadi lahan gembalaan yang kami syirkah-kan dengan Anda semua. Kami memiliki lahan gembalaan , lengkap dengan sarana dan prasarananya Anda yang memiliki kambing lengkap dengan biaya pemeliharaannya. Hasil dari penggembalaan tersebut berupa pertumbuhan berat dan anak-anaknya dapat kita bagi dua, demikian pula dengan resiko-resikonya.

 

Dalam skala terbatas, program ini telah berjalan antara kami dengan beberapa orang. Bila eksperimen awal ini berjalan mulus, maka konsep ini insyaAllah bisa di scale-up sampai tingkat berikutnya.

 

Konsepnya mirip dengan pengenalan Dinar dahulu, kami mulai dengan bersyirkah dalam bentuk Qirad dengan beberapa orang, kemudian kami perkenalkan versi scale-up-nya dengan M-Dinar.

 

Scale-up syirkah penggembalaan kambing di lahan-lahan perkebunan, kehutanan dan lahan-lahan yang khusus disiapkan untuk penggembalaan ini nantinya insyaAllah akan kita rupakan dalam bentuk bank kambing atau domba dalam bahasa inggris kita sebut LambBank.

 

Namanya bank tetapi bukan seperti bank finansial, dia lebih menyerupai bank fisik yang digunakan oleh misalnya teman-teman aktivis lingkungan dengan bank sampah-nya. Atau teman-teman aktivis kemanusiaan dengan bank darah-nya. Kita-kita para aktivis sosial ekonomi muslim secara global insyaAllah akan memiliki LambBank tersebut.

 

Persamaan dengan bank finansial hanyalah pada cara cara kerjanya. Di bank sampah  Anda menyetor sampah, di bank darah Anda menyetor maupun mengambil darah, maka di LambBank Anda menyotor kambing/domba atau menarik kambing/domba. Bila di bank finansial dikenal nilai tukar, di LambBank dikenal harga jual-beli.

 

Menyetor kambing tidak berarti Anda harus menuntun kambingnya ke cabang LambBank terdekat meskipun hal inipun dapat Anda lakukan Anda dapat lakukan dengan menyotorkan uang Anda kemudian dikonversikan ke setara kambing pada harga jual saat itu.

 

Demikian pula ketika Anda akan mengambil kambing Anda, bisa Anda ambil dalam bentuk kambing fisik dan Anda tuntun ke rumah   atau kalau tidak mau repot ya bisa dicairkan dalam nilai rupiah dengan menjualnya ke pihak pengelola yang kemudian dibeli pengelola dengan harga beli.

 

Bila di bank finansial asset itu berupa tumpukan uang kertas di brankas , deposit mereka di bank sentral dan bank-bank lain, Asset LambBank adalah kambing dan domba di lahan-lahan gembalaan yang dikelolanya dan juga kambing/domba yang dikelola oleh mitra-mitranya.

 

Kehadiran LambBank ini akan

Watana Solusi Pangan Air Dan Energi

Dalam hal  kebutuhan pokok berupa pangan, air dan energi, sesungguhnya kita memiliki kombinasi sumber-sumber terbaiknya di dunia. Tetapi ironinya justru kita terbelakang dalam hal pemenuhan kebutuhannya.  Untuk pangan,  food security kita terendah di ASEAN. Dalam hal kebutuhan air, seperti laporan  McKinsey yang pernah saya kutip sebelumnya pada tahun 2030 akan ada 25 juta orang Indonesia yang tidak mendapatkan akses air bersih dan bahkan 55 juta orang tidak mendapatkan sanitasi yang layak. Untuk energi,  ranking kita hanya berada pada urutan 63 dari 124 negara menurut World Economic Forum.

 

 

Ketika masalah-masalah diselesaikan secara sektoral dan lebih pada mengatasi gejala ketimbang akar masalahnya, maka yang kita lihat adalah sekumpulan masalah multi dimensi yang semakin ruwet tersebut di atas.

 

Ketika masalah kekurangan produksi pangan berupa tepung, daging, susu dlsb. diatasi dengan impor, tidak terbangun kemampuan daya tahan jangka panjang dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan ini. Bahkan ketika negeri ini akan menambah jutaan hektar lahan persawahan untuk mengejar kebutuhan pangan, inipun bukan solusi karena  bisa diduga dari mana jutaan  hektar lahan ini diperoleh ? membabat hutan ? menebang pohon-pohon ? musibah lingkungan yang malah akan terjadi.

 

Air yang turun lebih dari  cukup di musim hujan, sering dilihat sebagai musibah dan bukannya berkah. Challenge untuk mengelola air sebagai berkah ini belum nampak dilakukan secara memadai oleh pihak-pihak yang terkait sehingga musibah banjir terjadi setiap tahun dan kemudian musibah kekeringan terjadi hanya beberapa bulan sesudahnya.

 

Kebutuhan energi hanya menjadi isu sesaat ketika partai-partai politik berebut pencitraan dan popularitas dengan menolak kenaikan harga BBM. Sementara itu belum nampak adanya perjuangan mereka untuk ketersediaan energi satu dua dekade kedepan ketersediaan (availability) dan keterjangkauan (affordability) energi pada era anak atau cucu kita.

 

Lantas solusi apa yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita ini agar bisa berbuat untuk kita sendiri,  dan bahkan juga untuk  anak cucu  kita nanti ? Solusi dari masalah multi dimensi itu  antara lain adanya di dua kata yang sudah sangat sering kita dengar yaitu Iman dan Amal Shaleh.

 

Dengan iman kita akan mau berbuat untuk tujuan yang sangat panjang dan bahkan untuk bekal ketika kita sudah tidak ada di bumi ini, bukan tujuan sesaat seperti mencari bekal untuk kita sendiri saat ini. Dengan iman  pula kita bisa meyakini bahwa petunjukNya untuk mengatasi segala kebutuhan manusia itu telah tersedia, kita tinggal mengikutinya tanpa ragu.

 

Dengan iman yang tidak berhenti pada tataran keyakinan dalam hati, maka iman itu akan termanifestasi dalam ucapan dan perbuatan-perbuatan kita berupa rangkaian amal shaleh yang bisa menjawab tantangan jaman seperti dalam hal pangan,  air dan energi tersebut di atas.

 

Iman itu adalah cahaya, membuat yang semula tidak terlihat menjadi terang benderang. Solusi atas kebuntuan masalah pangan, air dan energi yang semula serba ruwet misalnya, kini bisa dilihat solusinya yang terang benderang. Begitu terangnya sampai kita semua juga bisa mulai melakukannya, sehingga setiap diri kita adalah bagian dari solusi itu dan bukan sebaliknya malah bagian dari permasalahannya.

 

 

Saya coba visualisasikan rangkaian petunjukNya untuk masalah pemenuhan kebutuhan pangan, air dan energi tersebut seperti pada ilustrasi di atas. Pertama adalah dalam kondisi ekstremnya kondisi bumi yang matipun- Allah tetap bisa hidupkan dengan hujan. Maka betapa pentingnya hujan ini, jangan sia-siakan dia dan setiap kita bisa berusaha untuk menjadi faktor pengelola air hujan, bukan sebaliknya menjadi faktor musibah dari air hujan.

 

Dengan peran ini kita tidak akan membuang sampah sembarangan, tidak akan membangun di tempat-tempat yang seharusnya menjadi penampungan air, tidak menggunduli hutan dlsb. Sebaliknya kita akan terdorong untuk sadar lingkungan, sebanyak mungkin menanam pohon (pekerjaan yang diperintahkan sampai kiamat terjadi !), membuat resapan-resapan air dlsb.

 

Kemudian fungsi-fungsi air hujan itupun dijelaskanNya dengan sangat detil antara lain melalui dua ayat berikut :

 

Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menghidupkan) pepohonan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS 16:10-11).

 

Bila diringkaskan fungsi air hujan dalam dua ayat tersebut adalah selain untuk minum kita, dia adalah untuk menghidupkan dan menumbuhkan segala jenis tanaman keras (syajara) yang hidup jangka panjang seperti zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan pada umumnya. Maupun tanaman-tanaman semusim (zaraa) seperti padi, gandum, jagung dlsb. Fungsi berikutnya adalah untuk menggembalakan ternak di tempat turunnya hujan dan tumbuhnya tanamana-tanaman tadi.

 

Kombinasi antara tanaman keras (syajara) dan tanaman semusim (zaraa) inilah yang oleh ilmu pertanian modern kemudian disebut dengan agroforestry yang sudah saya jelaskan dalam berbagai tulisan sebelumnya  menyebarkannya ataupun melakukan pemupukannya.

 

Maka solusi agroforestry plus grazing atau wana tani plus gembala ternak inilah yang untuk alasan kemudahan  saya singkat menjadi solusi WATANA singkatan dari WAna TAni terNAk !

 

Dengan solusi WATANA yang dikembangkan berdasarkan petunjuk-petunjukNya tersebut di ataslah urusan segala macam kebutuhan pangan kita insyaAllah teratasi dengan sumber-sumber yang ada di sekitar kita, yang dimulai dari turunnya air hujan.

 

Lantas bagaimana dengan kebutuhan air ?, Pengelolaan air hujan menjadi mata air-mata air dan anak-anak sungai yang mengalir sepanjang tahun ini dijawab dengan ayat-ayat yang lain yaitu di Surat Yasin ayat 34 dan Surat Maryam ayat 23-24. Keduanya merupakan petunjuk akan adanya mata air dan anak sungai yang terkait dengan tanaman pohon kurma.

 

Bagaimana dengan kebutuhan energi ? PetunjukNya ada di surat Yasin ayat 80 dan surat Al-Waqiah ayat 71-72. Keduanya adalah petunjuk bahwa sumber energi-pun berasal dari pohon-pohon yang hijau.

 

Dari sini kita sekarang bisa melihat bahwa WATANA bukan hanya untuk solusi pangan tetapi juga solusi atas kebutuhan air dan energi yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Dan untuk ini kita semua bisa mulai berperan  sesuai kemampuan serta bidang kita masing-masing. InsyaAllah.

 

 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger