Startup Challenge Rumah Untuk Semua

12:58 AM

Menurut data Habitat PBB, 30 % penduduk perkotaan tinggal di daerah kumuh sementara yang di desa malah lebih banyak yaitu 35 %. Kekumuhan ini dicirikan antara lain dengan kurangnya air bersih, terbatasnya saluran pembuangan, kepadatan yang berlebihan, struktur bangunan yang tidak layak, dan status tempat tinggal yang tidak sah. Kondisi ini akan terus memburuk seiring dengan bertambahnya penduduk di muka bumi, dapatkah kita melakukan perbaikan ?

 

Rumah adalah salah satu sumber kebahagiaan dan juga sekaligus sumber kesedihan sebagaimana diungkap dalam hadits : Ada empat sumber kebahagiaan seseorang, yaitu istri salehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Juga ada empat sumber kesedihan seseorang, yaitu tetangga yang jahat, istri yang membangkang, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk. (HR. Imam Ibnu Hibban).

 

Maka mengatasi problem-problem kesulitan perumahan bagi rakyat adalah juga bagian dari mengatasi kesedihan-kesedihannya. Saat ini kita di Indonesia mengalami kekurangan perumahan sekitar 15 juta rumah dan bertambah sekitar 400,000 setahunnya. Maka inilah tantangannya.

 

Tetapi bila rumah dibangun dengan cara-cara seperti sekarang, nampaknya problem perumahan ini bukannya teratasi malah tereskalasi. Lantas apa solusinya ?

 

Nampaknya hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu kembali kepada petunjukNya. Inspirasinya datang dari wahyu Allah ke lebah : Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (QS 16 :68).

 

Karena lebah mendapatkan wahyu untuk membuat rumah kemudian lebah benar-benar menggunakan wahyu itu maka tidak ada lebah yang tidak punya rumah, dan lingkungan rumahnya-pun tidak ada yang kumuh. Rumah lebah-pun selalu indah sehingga tidak ada perbedaan yang significant antara tingat-tingkat masyarakat lebah dalam hal perumahanya. Lebah pekerja memiliki rumah yang sama indahnya dengan lebah-lebah jantan calon suami ratu lebah.

 

Lebah membangun rumah dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya sehingga tidak ada lebah yang kesulitan mencari bahan banguan untuk rumahnya. Beda sekali dengan manusia, ketika semen di Jawa harganya hanya Rp 70,000,- semen di salah satu kabupaten di Papua bisa mencapai 20 kalinya yaitu Rp 1,400,00 per sak.

 

Lebah membangun rumah dengan bergotong royong, sehingga tidak perlu membayar tenaga kerja atau resources lain yang mahal. Rumah lebah tidak terbebani biaya bunga atau riba, sehingga tidak ada rumah lebah yang mahal.

 

Rumah lebah dekat dengan tempat kerja di mana lebah mencari makan, sehingga tidak ada lebah yang perlu membuang waktu terlalu banyak untuk pergi dan pulang dari tempat kerjanya.

 

Di dalam rumah-nyapun lebah masih bisa produktif menghasilkan produk-produk yang sangat bermanfaat untuk koloni lebah maupun untuk manusia, yaitu madu.

 

Di akhir cerita tentang lebah tersebut Allah-pun mengingatkan manusia agar belajar darinya : Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS 16:69)

 

Bayangkan kalau prinsip-prinsip rumah lebah ini semua bisa diterapkan dalam pembangunan rumah manusia, Maka insyaAllah sumber-sumber kebahagiaan itupun akan datang dari rumah-rumah kita semua.

 

Bayangkan kalau kita bisa membangun rumah atau perumahan seperti lebah : 1) Tidak menggunakan bahan selain yang ada di sekitar kita; 2) Membangun dengan cara gotong royong; 3) Rumah yang dekat dengan tempat kerja atau bahkan menjadi rumah produktif yang sekaligus tempat kerja.

 

Prinsip pertama dan kedua insyaAllah akan menjadi project berikutnya yang akan diwujudkan di Startup Center Depok. Teknologi yang menjadi kajian dari teman-teman di perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri, insyaAllah siap diterapkan. Teknologi yang disebut Mortarless Technology Teknologi tanpa (atau sedikit) semen antara lain akan menjadi solusinya.

 

Dengan teknologi ini Anda akan bisa membuat rumah dengan bahan dari galian tanah di lokasi rumah yang akan dibangun. Tanah yang dikeduk untuk leveling atau digali untuk resapan air, bisa cukup untuk membuat batu bata khusus yang disebut Interlocking Brick. Dari batu bata inilah dinding rumah akan dibuat.

 

Untuk membangun rumah dengan Interlocking Brick selain murah juga mudah, sehingga Anda bisa bekerjasama dengan tetangga-tetangga untuk saling membangunkan rumah masing-masing. Tentu ini bisa dicapai bila Anda bertetangga dengan orang-orang yang baik seperti diindikasikan dalam hadits tersebut di atas.

 

 

InsyaAllah bersama-sama kita bisa ikut mengatasi problem perumahan di negeri ini, sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi jutaan orang yang kini belum bisa menikmati kebahagiaan dari rumahnya. InsyaAllah.

 

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Subscribe